Home UlasanAsuransi Jiwa Konvensional
Jurnal Allianz , Asuransi Jiwa Konvensional , 01 Apr 2015

Asuransi dwiguna memberikan jaminan kepastian nilai tunai yang nilainya sesuai dengan kesepakatan awal. Pembayaran premi asuransi jumlahnya tetap, dan dibayarkan dalam periode yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Kita sering berpikir untuk menabung demi memenuhi tujuan jangka panjang. Salah satu yang paling banyak dipikirkan oleh masyarakat adalah menabung untuk keperluan biaya pendidikan anak. Tidak dapat dipungkiri, pendidikan dan kesehatan memang dua hal yang saat ini memerlukan biaya sangat tinggi. Dalam menabung untuk tujuan pendidikan anak, diperlukan waktu yang cukup dan relatif panjang agar ketika saatnya tiba, dana yang dimiliki dapat membiayai kebutuhan tersebut. Sayangnya, dalam jangka waktu yang panjang tersebut, risiko kehidupan tetap dapat terjadi, seperti misalnya orang yang menjadi sumber dana meninggal dunia.

Asuransi melihat kondisi ini dan memberikan solusi yang dapat memenuhi dua kebutuhan tersebut sekaligus: yaitu memberikan jaminan kepastian atas manfaat tunai yang akan diterima pada waktu yang sudah ditentukan dan juga memberikan manfaat utama berupa perlindungan terhadap jiwa orang yang menabung atas risiko meninggal dunia. Jenis asuransi ini dikenal dengan nama asuransi dwiguna. 

 

Asuransi Dwiguna Berbentuk Asuransi Dana Pendidikan

Contoh paling umum dari produk asuransi dwiguna adalah asuransi dana pendidikan. Selain memberikan jaminan kepastian nilai tunai yang nilainya sesuai dengan kesepakatan awal, pembayaran premi asuransi pendidikan jumlahnya tetap, dan dibayarkan dalam periode yang tetap. Asalkan biaya yang dibutuhkan dapat diprediksi, baik jumlah dan waktunya, pengelolaan dana dan perlindungan risiko dapat dikelola dengan bijak melalui asuransi dwiguna.

Misalnya, dengan premi sebesar 5 juta/tahun, nasabah akan mendapat uang pertanggungan sebesar 300 juta di tahun ke-20.

Meskipun anak masih berusia 2 tahun, kita sudah bisa memprediksi berapa biaya yang dibutuhkan ketika anak masuk SD, SMP, SMA, hingga Universitas. Kita juga bisa menyesuaikan biaya dengan pilihan sekolah dan prediksi kenaikan biaya pendidikan berdasarkan inflasi.

Uang pertanggungan (UP) dari asuransi pendidikan bisa diprogram sesuai kebutuhan dan jenjang pendidikan yang akan ditempuh anak. Misalnya kita bisa memprogram agar 15% dari total uang pertanggungan bisa dicairkan pada tahun ke-10 atau pada saat anak masuk SMP. Lalu 25% lagi pada tahun ke-13 atau saat anak masuk SMA, dan 60% pada tahun ke-16 saat anak masuk kuliah.  Biasanya perusahaan asuransi akan memberikan ketentuan minimal jangka waktu pencairan uang pertanggungan.

Berdasarkan tujuannya dan agar memberikan manfaat maksimal, pemegang polis asuransi dwiguna sebaiknya orang tua, bukan anak secara perorangan. Meskipun pada akhirnya manfaat asuransi pendidikan dirasakan oleh anak, nilai ekonomi orang tua (sebagai pencari nafkah) penting untuk dilindungi. Pemahaman ini penting karena ketika terjadi sesuatu terhadap jiwa orang tua, anak masih mempunyai kepastian menempuh pendidikan.

Berdasarkan pengertian dan ilustrasi di atas, produk asuransi dwiguna juga bisa diaplikasikan untuk tujuan jangka panjang lainnya, misalnya untuk persiapan dana pensiun dan keperluan berangkat haji. 

Perhatian

Apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke halaman ini?